Untuk menangggapi tulisan Denny JA yang berjudul “Kemiskinan di Jawa Tengah Batu Sandungan Ganjar Pranowo Terpilih Menjadi Presiden?” saya akan menjawab dengan data dan opini pendek.

Saya teringat akan tulisan yang ditulis oleh seorang penulis dan penyair ternama dan salah satu yang terbesar dari Prancis, yaitu Victor Hugo (1802-1885).

Dia menulis: “Greatest actions are performed in minor struggles. Life, misfortune, isolation, abandonment and poverty are battlefields which have their heroes, obscure heroes who are at times greater than illustrious heroes.”

Yang artinya kurang lebih “tindakan terbesar dilakukan dalam perjuangan-perjuangan kecil. Hidup, kemalangan, isolasi, pengabaian dan kemiskinan adalah medan pertempuran yang memiliki pahlawannya masing-masing, pahlawan tak dikenal yang terkadang lebih hebat dari pahlawan termasyhur.”

Bisa kita lihat, kemiskinan sudah disinggung dari dahulu kala termasuk tulisan Victor Hugo dari abad ke-19, di mana dia menyinggung bahwa siapapun yang memperjuangkan hal-hal di atas adalah pahlawan yang lebih hebat dari seorang pahlawan yang termasyhur, walaupun dia sendiri adalah pahlawan yang tak dikenal.

Oleh karena itu, setiap menjelang pemilihan presiden, data kemiskinan baik di tingkat nasional maupun daerah diperlukan untuk berbagai kepentingan oleh setiap kelompok, seperti saat kampanye ataupun debat terbuka. Juga, data kemiskinan sering digunakan untuk mendongkrak popularitas ataupun juga menjatuhkan popularitas lawan politik.

Hal ini terjadi karena kemiskinan itu terus menjadi masalah fenomenal negara kita Indonesia. Kita selalu dibuat prihatin dan tertegun saat membaca dan mendengar berita di berbagai media massa tentang kemiskinan di Indonesia.

Kemiskinan memang adalah suatu isu yang sangat menarik untuk dipakai, baik untuk memuji seseorang ataupun menjatuhkannya. Hal ini sudah diteliti oleh berbagai peneliti, seperti Weatherford (1978) dan MacKuen et al (1992), yang menyatakan bahwa evaluasi kesehatan ekonomi atau kemiskinan memiliki dasar politik.

Hasil temuan ini memperkirakan bahwa para pendukung akan menolak gagasan bahwa presiden atau calon presiden mereka adalah penyebab ekonomi yang lemah, yang menyebabkan kemiskinan. Sedangkan, pendukung dari partai lawan presiden atau calon presiden, di sisi lain, akan sangat ingin menyalahkan dia atas kesengsaraan ekonomi bangsa atau suatu daerah.

Dari dulu memang kemiskinan adalah masalah yang sangat kompleks dan tidak mudah diatasi. Namun, dengan pendekatan yang serius dan tepat, kemiskinan akan lebih mudah diatasi.

Kemiskinan adalah tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar termasuk makanan, pakaian dan tempat tinggal. Namun, kemiskinan lebih dari sekedar tidak memiliki cukup uang.

Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas dan juga tidak bisa ke pesta ulang tahun, tidak dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan termasuk rekreasi, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga.

Penanggulangan kemiskinan memerlukan pemahaman mengenai dimensi dan pengukuran kemiskinan yang operasional. Setelah kemiskinan dapat dipotret secara akurat, strategi anti kemiskinan dapat dikembangkan.  

Ketika orang dikucilkan dalam masyarakat, ketika mereka tidak terdidik dengan baik dan ketika mereka memiliki insiden penyakit yang lebih tinggi, ada konsekuensi negatif bagi masyarakat. Kita semua membayar harga kemiskinan.

Meningkatnya biaya sistem kesehatan, sistem peradilan dan sistem lain yang memberikan dukungan kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan berdampak pada perekonomian kita.

Sementara banyak kemajuan telah dibuat dalam mengukur dan menganalisis kemiskinan, The World Bank melakukan lebih banyak pekerjaan untuk mengidentifikasi indikator dimensi kemiskinan lainnya. Pekerjaan ini termasuk mengidentifikasi indikator sosial untuk melacak pendidikan, kesehatan, akses ke layanan, kerentanan, dan pengucilan sosial.

Definisi kemiskinan dari The World Bank adalah kelaparan, kurangnya tempat tinggal, sakit dan tidak bisa ke dokter. Kemiskinan adalah tidak memiliki akses ke sekolah dan tidak bisa membaca. Kemiskinan bukanlah memiliki pekerjaan, ketakutan akan masa depan, hidup sehari demi sehari.          

Terlepas dari banyak definisi, satu hal yang pasti; kemiskinan merupakan masalah sosial yang kompleks. Bagaimanapun kemiskinan didefinisikan, dapat disepakati bahwa itu adalah masalah yang membutuhkan perhatian semua orang.

Adalah penting bahwa semua anggota masyarakat kita bekerja sama untuk memberikan kesempatan bagi semua anggota kita, untuk mencapai potensi penuh mereka. Ini membantu kita semua untuk membantu satu sama lain.

Bicara kemiskinan di Indonesia, memang yang menjadi tolak ukur adalah pulau Jawa, walaupun pada kenyataan ada beberapa provinsi di luar pulau Jawa, yang juga memiliki jumlah dan presentasi kemiskinan yang signifikan.

Kalau dilihat data yang dipublikasi oleh BPS dari 2011 – 2022 menunjukkan, dari jumlah total orang miskin, yang terbanyak adalah di Jawa Timur dengan total pada 2022 sebesar 4.181.290 jiwa; diikuti oleh Jawa Barat sebesar 4.070.980 jiwa; serta ketiga Jawa Tengah sebesar 3.831.440 jiwa.

Sedangkan dari segi persentase, yang tertinggi di tahun 2022 adalah DI Yogyakarta sebesar 11,34 persen, diikuti oleh Jawa Tengah 10,93 persen dan Jawa Timur 10,38 persen.

Walaupun memiliki jumlah penduduk miskin yang banyak dengan persentase yang tinggi, Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo mampu menurunkan jumlah kemiskinan di periode pertama dari 14,44 persen di tahun 2013 turun menjadi 11.32 persen, atau turun sebesar 3,2  persen. Atau, dari 4.811.300 jiwa menjadi 3.897.200 jiwa, setara 914.100 jiwa yang keluar dari kemiskinan.

Pada periode yang kedua, dari 10,80 persen menjadi 10,93 persen, terjadi peningkatan 0,13 persen. Namun itu terjadi karena di tahun 2020 dan 2021 kemiskinan di seluruh Indonesia memang mengalami peningkatan karena pandemi Covid-19. Di Jawa Tengah, jumlah penduduk miskin dari 3,743.230 jiwa meningkat menjadi 3.831.440.

Angka ini tentunya agak sedikit mengecewakan, walaupun memang alasan utamanya adalah karena pandemi Covid-19, dan diikuti oleh krisis global akibat perang Rusia vs Ukraina, yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemiskinan secara global dan nasional.

Namun, kalau kita melihat kinerja Ganjar Pranowo di Jawa Tengah sejak 2013 sampai dengan 2022, beliau berhasil menurunkan jumlah kemiskinan dari 4.811.300 jiwa menjadi 3.831.440 jiwa atau sebanyak 979.860 jiwa yang keluar dari kemiskinan, atau menurunkan persentase kemiskinan sebesar 3,51 persen.

Itu pun memang terjadi perlambatan yang signifikan pada saat Covid-19 dan krisis global, di mana perekonomian Indonesia memang memasuki kondisi krisis sejak kuartal ke-2 tahun 2020, di mana semakin banyak penduduk yang terinfeksi Covid-19.

Kejadian ini menurunkan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi mereka yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19.

Adapun karena hal ini maka pemerintah melakukan pembatasan mobilitas penduduk, yang membuat perekonomian tidak dapat berjalan semestinya. Sehingga sejumlah usaha terpaksa ditutup dan terjadi PHK. Ini mengakibatkan terjadinya penambahan kemiskinan di Indonesia termasuk di Jawa Tengah.

Sedangkan, pada 2022 di saat perekonomian Indonesia mulai bertumbuh kembali, harus dihadapkan pada tekanan inflasi yang bersumber dari peningkatan harga komoditas global, khususnya energi dan pangan, akibat perang di Ukraina.

Kedua hal itulah yang menyebabkan kemiskinan di seluruh Indonesia mengalami peningkatan atau memperlambat program-program penanggulangan kemiskinan, yang awalnya sudah berjalan positif di hampir semua provinsi di Indonesia.

Penurunan kemiskinan sebesar 3,51 persen dari 2013 ke 2022 tentunya bukan hal yang mudah. Itu bisa dilihat kalau dibandingan dengan provinsi lain di pulau Jawa, di mana di Jawa Timur terjadi penurunan kemiskinan sebesar 2,17 persen dari 12.55 persen, menjadi 10,38 persen.

Di Jawa Barat, menurun sebesar 1,46 persen, dari 9,52 persen menjadi 8,06 persen. DI Yogyakarta berhasil menurunkan 4,09 persen, dari 15,43 persen menjadi 11,34 persen.

Malah DKI Jakarta dan Banten mengalami peningkatan jumlah orang miskin ataupun persentase kemiskinan. Angka kemiskinan di DKI Jakarta meningkat sebesar 1,14 persen, dari 3,55 persen menjadi 4,69 persen, dan kemiskinan di Banten terjadi peningkatan sebesar 0,42 persen, dari sebesar 5,74 persen menjadi 6,16 persen.

Jadi prestasi Ganjar Pranowo menurunkan kemiskinan pada provinsi Jawa Tengah di antara provinsi yang ada di Pulau Jawa ada di nomor dua setelah DI Yogyakarta. Walaupun memang secara persentase kemiskinan dengan jumlah penduduk miskin di kedua provinsi itu masih yang tertinggi.

Oleh karena itu, pertanyaan apakah “Kemiskinan di Jawa Tengah Batu Sandungan Ganjar Pranowo Terpilih Menjadi Presiden?” harusnya tergantung dari opini yang dibangun oleh media mana atau kelompok mana.

Hal ini karena data telah memberikan jawaban bahwa walaupun persentase kemiskinan memang tinggi pada penduduk di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah berhasil menurunkannya selama 9 tahun kepemimpinan di Jawa Tengah. Ganjar hanya terhambat di saat Covid-19 dan krisis global, di mana hal tersebut umum terjadi di hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Dan jumlah kemiskinan di Jawa Tengah juga bukan yang tertinggi di Pulau Jawa secara khusus dan Indonesia pada umumnya. Angka 979.860 jiwa yang berhasil keluar dari kemiskinan itu juga bukanlah jumlah yang sedikit.

Kembali lagi, sesuai teori dari Weatherford (1978) dan MacKuen et al (1992), para pendukung akan menolak gagasan bahwa calon presiden mereka adalah penyebab ekonomi yang lemah yang menyebabkan kemiskinan.

Sedangkan, pendukung dari partai lawan calon presiden, di sisi lain, akan sangat ingin menyalahkan dia atas kesengsaraan ekonomi bangsa atau suatu daerah. Juga opini dari berbagai media yang menggiring hal tersebut, dan tentunya tinggal waktu yang akan menjawab dengan tepat pertanyaan di atas.

Jadi berapapun persentase kemiskinan yang diturunkan, besar ataupun kecil, oleh seorang Ganjar Pranowo tetaplah harus diapresiasi karena kita harus jujur bahwa beliau berhasil menurunkan kemiskinan di Jawa Tengah.

Mari kita kembali merujuk tulisan atau quotes dari Victor Hugo, yang saya sampaikan di awal tulisan ini. Kita juga bisa juga merujuk pada seorang tokoh legenda dari tanah Inggris, yaitu Robin Hood. Robin Hood dipuja karena membela dengan segenap hati jiwa dan raga terhadap kepentingan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan.

Dan Robin Hood berhasil merebut hati orang-orang tersebut, bahkan ceritanya melegenda sampai ke seluruh dunia. Jadi tidak bisa dipungkiri, siapapun yang rela memberikan dirinya untuk memperjuangkan pengentasan kemiskinan, maka dia akan mendapat tempat di hati banyak orang.

https://www.orbitindonesia.com/polemik-capres-2024/54410199617/joy-elly-tulung-ganjar-pranowo-pahlawan-tak-dikenal-atau-pahlawan-termasyhur