Keinginan menjadi guru besar bukan hanya karena daya tarik ekonomi, melainkan juga prestise yang melekat dalam jabatan itu. Menjadi guru besar adalah gabungan antara sensasi, harga diri, dan pengakuan prestasi akademik. Dalam dua-tiga bulan terakhir, sejumlah artikel yang muncul di Kompas membahas situasi problematik dan kendala yang dihadapi para dosen yang hendak menjadi guru besar.

Tidak hanya membahas kesulitan yang dihadapi para dosen yang mengajukan kenaikan pangkat guru besar—terutama kewajiban menulis di jurnal internasional bereputasi, sejumlah artikel yang diekspos harian Kompas juga membahas praktik culas yang acap kali dilakukan calon guru besar untuk menyiasati keadaan.

Ditengarai tak sedikit calon guru besar yang memanfatkan jasa joki untuk menuliskan artikel jurnal internasional sebagai syarat khusus menjadi guru besar. Tak jarang pula ada calon guru besar yang melakukan tindakan plagiarisme sebagai jalan pintas menghasilkan artikel jurnal internasional untuk memenuhi persyaratan khusus menjadi guru besar.

Sebagian dosen lain bersedia membayar mahal agar artikelnya segera terbit di jurnal internasional bereputasi. Intinya, akibat ketentuan yang mensyaratkan penulisan artikel di jurnal bereputasi untuk dapat naik jabatan, tak sedikit dosen menempuh berbagai praktik pragmatis, bahkan culas, untuk mengejar kenaikan jabatan sebagai guru besar. Apa penyebab dosen mau melakukan hal-hal yang memalukan, bahkan aib, untuk mengejar jabatan guru besar?

Beban guru besar

Bagi sebagian besar dosen di perguruan tinggi (PT), guru besar adalah jabatan tertinggi yang selalu diimpikan. Menjadi profesor adalah puncak dari jabatan dan karier akademik dosen setelah mereka mengabdikan diri selama 20-30 tahun mengajar. Keinginan menjadi guru besar bukan hanya karena daya tarik ekonomi meski bagi sebagian dosen memperoleh tunjangan guru besar Rp 13 juta-Rp 14 juta adalah tambahan penghasilan yang menggiurkan. Yang lebih mendorong dosen ingin meraih jabatan guru besar adalah prestise yang melekat dalam jabatan itu.

Menjadi guru besar adalah gabungan antara sensasi, harga diri, dan pengakuan terhadap prestasi akademik seorang dosen. Berbeda dengan jabatan kepala dinas atau badan dalam birokrasi yang kental pertimbangan politis dan kedekatan dengan pusat kekuasaan, menjadi guru besar hampir semuanya tergantung pada kinerja atau produktivitas masing-masing dosen.

Tak selalu dosen yang terkenal, bahkan lulusan PhD dari luar negeri sekalipun, pasti jadi guru besar. Ketika mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan seminar atau menjadi konsultan, tetapi lupa menulis artikel, jangan harap bisa menjadi guru besar.

Syarat harus memiliki artikel di jurnal internasional bereputasi sebagai first author (penulis pertama), untuk menjadi seorang guru besar, menjadi momok bagi kebanyakan dosen yang tak terbiasa menulis artikel jurnal. Memang banyak dosen memiliki artikel di jurnal internasional karena mereka menulis bersama dengan mahasiswa bimbingannya.

Akan tetapi, karena posisinya biasanya hanya sebagai second author (penulis kedua), artikel itu tak bisa dipakai untuk kenaikan jabatan menjadi guru besar. Mau tak mau, jika ingin menjadi guru besar, mereka harus menulis dan memiliki artikel di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama. Sudah barang tentu ini bukan hal mudah.

Di tengah kesibukan mengajar, kegiatan administrasi, dan melakukan aktivitas lain untuk mencari tambahan penghasilan bagi keluarga, kesempatan bagi dosen untuk bisa menulis sendiri artikel jurnal internasional sungguh sangat sulit. Menulis artikel jurnal biasanya perlu waktu yang lama dan konsentrasi yang tinggi. Kesempatan untuk duduk diam, menelusur referensi, dan kemudian menulis artikel jurnal yang panjang adalah sesuatu yang langka dan nyaris mustahil dilakukan dosen yang sehari-hari sudah supersibuk.

Bisa dibayangkan apa yang bisa dilakukan seorang dosen yang setiap semester harus mengajar 12 SKS lebih? Bagi dosen di PT swasta, beban mengajar bahkan tak jarang lebih dari 20 SKS. Ini belum terhitung kewajiban dosen untuk menguji skripsi, tesis, atau disertasi.

Kesejahteraan dan penghasilan dosen di Indonesia umumnya masih belum memadai. Dengan gaji sekitar Rp 7 juta sampai Rp 10 juta untuk dosen yang termasuk senior, tentu sulit hanya mengandalkan gaji dan tunjangan sertifikasi dosen sekalipun untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Menulis artikel jurnal dalam bahasa Inggris niscaya membutuhkan peran penerjemah dan proof-reader. Menerjemahkan sekaligus memastikan tata bahasa Inggris yang berkualitas membutuhkan biaya tak sedikit, Rp 4 juta-Rp 7 juta per artikel. Mungkinkah seorang dosen dengan penghasilan di bawah Rp 10 juta menyisihkan dana sebesar itu untuk memastikan kualitas bahasa Inggris artikelnya?

Kita tahu bahwa menjadi guru besar bukan sekadar jabatan akademik, melainkan juga memanggul beban moral yang berat. Reputasi yang disematkan ke pundak guru besar bukan hanya harus piawai secara keilmuan, melainkan juga memiliki sikap bijak dan selalu produktif menghasilkan karya ilmiah demi kemajuan bangsa dan negara. Dengan semua atribut itu, sering kali dianggap tabu mempersoalkan kesejahteraan atau tunjangan yang mereka terima. Diskusi yang muncul di publik pun juga tak banyak membahas berapa sebetulnya tunjangan yang pantas untuk seorang guru besar.

Sudah rahasia umum, tunjangan seorang guru besar masih kalah dari kepala desa atau camat di DKI Jakarta atau di Surabaya. Total gaji seorang guru besar selama ini tak lebih dari Rp 25 juta, sementara kepala desa atau camat di atas Rp 30 juta per bulan. Belum lagi dibandingkan dengan kepala dinas yang gajinya sekitar Rp 50 juta per bulan.

Sepanjang kesejahteraan dosen masih menjadi masalah dan dosen masih disibukkan dengan kegiatan nonakademik, bisa dipastikan selama itu pula harapan dosen dapat menulis artikel di jurnal internasional akan sulit diwujudkan. Sebagian besar dosen masih mengandalkan sumber dan kegiatan lain untuk mencari tambahan penghasilan dan semua itu tak berkaitan dengan kegiatan tulis-menulis artikel jurnal.

Guru besar yang baik

Dalam sidang yang digelar Mahkamah Konstitusi (MK) awal Januari 2022, hakim MK mempertanyakan syarat seorang dosen yang harus menghasilkan artikel di jurnal internasional bereputasi yang dinilai tak transparan sehingga memunculkan dugaan-dugaan negatif pada proses pengurusan guru besar.

Tim penilai kenaikan pangkat guru besar Kemendikbudristek yang me-review ulang sebuah artikel jurnal—yang sudah terbit di jurnal terindeks Scopus—dinilai hakim MK, Saldi Isra, janggal.

Dalam perkara yang diajukan dosen Departemen Matematika Fakultas MIPA Universitas Indonesia itu, UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen digugat dan diminta dihapuskan karena dinilai merugikan dosen. Bagaimana hasil akhir dari gugatan Dr Sri Mardiyati, waktulah yang akan menjawabnya. Namun, gugatan itu sesungguhnya merefleksikan kegundahan yang sudah lama terpendam di benak sebagian dosen tentang kian beratnya persyaratan menjadi guru besar.

Menulis artikel di jurnal internasional bereputasi memang idealnya dilakukan oleh semua dosen. Namun, selain menulis artikel di jurnal internasional, menulis buku ajar atau buku referensi sebetulnya juga tak kalah membanggakan. Hanya saja kenapa penghargaan untuk buku tampaknya belum seprestisius menulis artikel jurnal internasional? Menulis buku ajar atau buku referensi secara faktual lebih sulit daripada menulis artikel jurnal. Masalahnya, kenapa menulis buku tidak memperoleh apresiasi yang layak?

Selama ini, reputasi seorang guru besar seolah mengerucut hanya pada punya-tidaknya artikel jurnal dan berapa H-Index yang tertera di Scopus. Prestise menulis buku makin kehilangan pamor sehingga, daripada bersusah-payah menulis buku ajar, kebanyakan dosen lebih memilih berusaha menulis artikel jurnal untuk meraih impian menjadi guru besar.

Sekali lagi menulis artikel di jurnal internasional bereputasi adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan para dosen. Akan tetapi, haruskah menulis artikel di jurnal internasional sesuatu yang ”sakral”, yang wajib dilakukan dan diberlakukan sebagai syarat khusus menjadi guru besar?

Pengalaman selama ini, guru besar yang baik sesungguhnya tak tergantung berapa banyak artikel di jurnal internasional bereputasi yang dimiliki. Menjadi guru besar idola mahasiswa sering kali justru ditentukan oleh cara dan kualitas mereka mengajar, keseriusan membimbing, dan hal-hal lain yang tak berkaitan dengan kegiatan menulis artikel di jurnal internasional.

Barangkali sudah saatnya menulis artikel di jurnal internasional bereputasi tak lagi dianggap sebagai segala-galanya bagi seorang guru besar. Dosen yang menulis buku ajar, buku referensi, dosen yang membimbing dengan baik, dosen yang mengajar dengan berkualitas perlu pula diapresiasi dan dihargai karena merekalah sesungguhnya guru besar yang benar-benar nyata.

Bagong Suyanto Guru Besar dan Dekan FISIP Universitas Airlangga

https://www.kompas.id/baca/artikel-opini/2022/02/18/guru-besar-yang-nyata

49 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here