Sepanjang sejarah kekristenan di tanah Minahasa baru kali ini Gereja di himbau untuk ditutup selama dua minggu begitu juga dengan perkumpulan ibadah di tengah minggu, baik Protestan maupun Katolik sepakat untuk ibadah dirumah seperti seruan pemerintah, hal ini tidak pernah kita semua pikirkan begitu juga dengan bekerja dan belajar, Presiden RI Joko Widodo menyerukan kepada kita semua untuk Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah dan Ibadah di Rumah, tidak begitu lama hal itu sangat berdampak bagi kita semua tidak terkecuali di Kota Manado dan seluruh Kota lainnya dan kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Virus Corona yang menyebabkan COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) tiba-tiba memenuhi setiap percakapan orang dimana saja baik secara langsung maupun di media online terutama grup-grup Whatsapp kita semua.

Terus apa dampak secara ekonomi bagi kita masyarakat Sulawesi Utara?

Sudah sejak awal tahun 2020 sewaktu Covid19 menyerang Wuhan Cina pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara sudah terancam terhambat dikarenakan penerbangan dari Cina langsung dihentikan menyebabkan tidak adanya turis dari Cina yang berada di Sulawesi Utara sehingga perputaran belanja barang konsumsi di Sulawesi Utara otomatis menurun, dimana pada tahun 2019 Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran adalah sumber pertumbuhan ekonomi nomor dua di Sulawesi Utara dengan persentasi 1,12 persen. Untuk sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di Sulawesi Utara adalah lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan persentasi 1,14 persen dan itu akan terdampak lumayan besar karena Cina adalah salah satu tujuan ekspor terbesar Sulawesi Utara untuk Komoditi Pertanian, Kehutanan dan Perikanan. Dimana lapangan usaha pertanian merupakan sektor terbesar di Sulut dengan pangsa tahunan sekitar 20,95% dari total perekonomian Sulut. Selain itu, 24,79% tenaga kerja di Sulut bekerja pada lapangan usaha pertanian. Secara global, sekitar 29 persen dari barang yang diekspor Cina yaitu bahan mentah berasal dari Indonesia termasuk tentunya Sulawesi Utara.

Walaupun COVID-19 mengkhawatirkan kita di awal tahun namun perekonomian global dan nasional saat itu dalam keadaan yang membaik, ekonomi dunia tampaknya sedang dalam perjalanan menuju pemulihan yang bagus, ketegangan perdagangan dan politik dipandang “tidak terlalu buruk”, hal ini sesuai dengan tulisan dari ekonom Warwick McKibbin dan Roshen Fernando dari The Australian National University dalam ebook Economics in the Time of COVID-19 yang diedit saat pandemic COVID-19 terjadi oleh Richard Baldwin dan Beatrice Weder di Mauro (2020), bahkan saat awal tahun 2020 ini Rupiah menyentuh angka Rp. 13.883 per 1 dollar dan terus menguat menyentuh Rp. 13.578 pada tanggal 27 Februari 2020 namun Ketika COVID-19 menyebar di seluruh dunia Rupiah terus melemah bahkan sampai tulisan ini ditulis 22 Maret 2020 telah menyentuh Rp. 16.175, ini sudah menjadi jelas bahwa COVID-19 memiliki potensi untuk menggagalkan ekonomi dunia dan tentunya sampai ke Indonesia dan khususnya Sulawesi Utara.

Saat seruan tinggal dirumah dikeluarkan oleh Presiden RI Joko Widodo sampai ke daerah-daerah yang terdampak COVID-19 termasuk Sulawesi Utara, membuat pertumbuhan ekonomi akan semakin melambat, instruksi untuk belajar dirumah dikeluarkan oleh Gubernur dan Walikota kepada murid sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA serta instruksi pimpinan-pimpinan Universitas yang ada di Sulawesi Utara termasuk UNSRAT dan UNIMA bagi mahasiswa dan terus dilanjutkan dengan bekerja dari rumah dan beribadah di rumah bagi masyarakat Sulawesi Utara, dampaknya langsung terasa, Mall dan Restoran langsung kosong dalam sekejap mata mengakibatkan perputaran belanja tentunya sangat terdampak dan walaupun Masyarakat berbelanja bahan-bahan pokok secara masif sebagai upaya penyelamatan diri akibat dari Panic Buying. Sementara Panic Buying yang secara massif akan mengakibatkan terjadi kelangkaan barang yang disebabkan ketidakseimbangan antara demand dan supply. Akibat selanjutnya dari kelangkaan akibat tidak seimbangnya permintaan dan penawaran ini berujung pada kenaikan harga. Namun Kebijakan ini harus dilakukan untuk mencegah penyebaran Virus Corona penyebab COVID-19 ke masyarakat.

Mari kita berharap agar krisis ekonomi tidak akan terjadi, oleh karena itu kita berharap Pemerintah RI telah mempersiapkan dengan matang segala kemungkinan yang akan terjadi dan kebijakan stimulus seperti apa yang akan dikeluarkan. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi tentunya harus terus berkoordinasi dengan pemerintah RI secara maksimal. Harus juga dipikirkan untuk mitigasi risiko terutama risiko kredit, apa yang akan terjadi dengan UMKM yang mengambil Kredit Modal Kerja dan Investasi, kalau seandainya kebijakan “lockdown” benar-benar terjadi, dengan dana dari mana mereka harus membayar cicilan kredit? Untuk yang kerja disektor informal seperti driver ojek online mereka dipastikan kehilangan pemasukan sedangkan motor dan mobil yang mereka gunakan sebagian besar masih dicicil belum lagi para buruh, pelayan toko, pelayan rumah makan, pedagang keliling, sopir, dan sebagainya. Kalau penyebaran Virus Corona semakin membesar dan menyebabkan semakin banyak orang yang menderita COVID-19, yang jelas bukan hanya terdampak ke sektor hotel dan restoran namun akan terus menjalar ke sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terus ke sektor perdagangan dan pada akhirnya ke semua sektor yang ada.

Langkah Pemerintah Provinsi

Pemerintah Sulawesi Utara sudah melakukan hal yang tepat dengan menggeser anggaran sebesar 45M untuk sektor kesehatan, karena dalam kondisi diberlakukannya”social distancing”, dalam jangka pendek stimulus fiskal lebih baik difokuskan pada beberapa hal. Pemberian bantuan langsung kepada masyarakat yang terdampak seperti yang disebutkan di atas yaitu golongan pekerja disektor informal akan tidak efektif karena kebijakan “social distancing” yaitu dengan diam dirumah apalagi jika benar-benar terjadi “lockdown” karena kalaupun masyarakat memiliki uang dari stimulus yang akan diberikan pemerintah, namun tak bisa membelanjakannya maka hal itu tidak akan efektif mendorong permintaan. Walaupun hal demikian akan menaikan moral dari golongan masyarakat tersebut.

Tentunya anggaran sebesar itu di sektor kesehatan bisa digunakan untuk penanggulangan wabah COVID-19 dan upaya menurunkan penularan serta menyediakan peralatan medis bagi pekerja kesehatan serta tempat penampungan yang layak. Selagi jumlah kasus di Sulawesi Utara masih kecil, lebih baik bersiap sebelum kita terkejut dan terlambat. Pemerintah Provinsi harus benar-benar memastikan bahwa kita memiliki cukup ruangan di rumah sakit-rumah sakit yang telah ditunjuk untuk merawat pasien. Pemerintah Provinsi juga membutuhkan alat uji yang cukup; tambahan tenaga medis, baik perawat maupun dokter; juga tentunya obat-obatan, dan prosedur penanganan. Jadi untuk saat ini fokus Pemerintah Provinsi di sektor Kesehatan sangat tepat dan bermanfaat.

Untuk hal yang lain, dikarenakan ini adalah bencana nasional dan juga darurat nasional maka kebijakan pemerintah RI yang harus diikuti. Oleh karena itu marilah kita masyarakat untuk tetap berdoa dan terus bekerja sama dengan pemerintah dan mengikuti segala himbauan yang ada dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19, dan kita harus terus yakin bahwa kita nantinya akan menjadi pemenang dalam peperangan melawan COVID-19.

44 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here